{"id":682,"date":"2011-01-07T08:49:00","date_gmt":"2011-01-07T08:49:00","guid":{"rendered":""},"modified":"2020-08-31T02:49:55","modified_gmt":"2020-08-31T01:49:55","slug":"olahraga-di-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/2011\/01\/07\/olahraga-di-masyarakat\/","title":{"rendered":"OLAHRAGA DI MASYARAKAT"},"content":{"rendered":"<div>\n<p><p style=\"text-align: center; line-height: 150%;\"><strong style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">OLAHRAGA DI MASYARAKAT<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; line-height: 150%;\"><strong style=\"\"><span style=\"text-decoration: underline;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">&nbsp;<\/span>Sejarah Perkembangan Olahraga di Masyarakat<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-size: 16px; line-height: 24px; text-decoration: underline;\"><strong><br \/><\/strong><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Sebelum membicarakan olahraga di Indonesia maka terlebih dahulu dibicarakan apa arti olah raga itu ? Olah raga, menilik asal katanya dari olah dan rogo berasal darikata bahasa jawa olah yang berarti berlatih, melakukan kegiatan dengan tekun dan rogo yang berarti badan atau jasmani sehingga olah raga waktu itu mempunyai pengertian &ldquo;gerak badan&rdquo; atau sport ( harsuki 1982 ). Pada zaman mataram 1600 sampai dengan 1775 di setiap kabupaten terdapat sebuah lapangan yang dinamakan aloon-aloon tempat para prajurit mengolah raganya baik berupa pencak silat,panahan atau berkuda latihan gladi keprajuritan dinamakan &ldquo;seton&rdquo;.Dalam sejarahnya olah raga di Indonesia melaju sejalan dengan perkembangan masyarakat. Semula masyarakat Indonesia hidup dalam kelompok-kelompok sosial yang bersifat kesukuan ataupun kedaerahan maka olah raga yang berkembang bersifat lokal dan terbatas penyelenggaraannya pada lingkungan sosial tertentu, sehingga olah raga tradisional pada suku tertentu<span style=\"\">&nbsp; <\/span>hanya digunakan sebagai hiburan atau selingan pengisi waktu saja. Contoh olah raga tradisional di Indonesia : pasola, debus, ujungan, dan loncat batu nias<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">&nbsp; <\/span>Berlakunya undang-undang agraria tahun 1870 membawa pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak semula belanda tidak menaruh perhatian terhadap pendidikan rakyat Indonesi. Pemerintah Belanda juga tidak menaruh perhatian pada penjas dan sport sehingga warisan dari nenek moyang bangsa Indonesia kurang dikenal. Perhatian terhadap penjas baru ada kira-kira akhir abad ke 19 yaitu ketika sekolah-sekolah bagi anak-anak eropa makin berkembang dan berbagai latihan jasmani diberikan antara lain: senam, atletik, kasti, bola bakar, sepak bola dan bola tangan. Perhatian masyarakat Indonesia sedikit sekali terhadap senam sehingga perkembangannya tidak mencapai tingkatan yang tinggi kegiatan senam di masyarakat pada waktu itu biasanya merupakan demonstrasi yang dilakukan oleh pelajar-pelajar sekolah menengah seperti HIK ( Hollandssh Indische Kweekscholl atau sekolah guru ), MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau SMP ), AMS ( Algemeenee Middelbare School atau SMA ) dan HBS ( Hoogere Burgerschool atau Sekolah Menengah Lima Tahun ). Sedangkan atletik banyak menarik perhatian pelajar-pelajar sekolah lanjutan karena sering dipertandingkan dalam acara sekolah yang dipertandingkan biasanya : jalan, lari, lempar dan lompat. Sedangkan permainan yang diajarkan di tingkat SD adalah kasti dan bola bakar juga ada rounders dan kiepers. Permainan yang berkembang di masyarakat pada saat itu adalah sepak bola dan bulu tangkis. Permainan yang berkembang pada masyarakat kelas tinggi adalah tenis untuk kalangan bangsawan dan pelajar sedangkan tenis meja berkembang pada masyarakat china untuk permainan asli nenek moyang Indonesia mulai berkurang kecuali pencak silat yang berkembang di pesantren-pesantren dan padepokan pencak silat.<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Setelah sumpah pemuda 28 Oktober 1928 ruang pendidikan di Indonesia makin terbuka salah satunya adalah kepanduan sebagai alat untuk memepersatukan dan menggalang kekuatan di kalangan pemuda. Demikian pula peranan olah raga dari berbagai cabang mulai dibina dan organisir seperti PSSI tahun 1930, PELTI tahun 1936, Bola Keranjang tahun 1940 dan Basket, Bulu tangkis pada tahun 1930 tapi tidak sempat memiliki organisasi. Pecahnya PD II dan Belanda menyerah pada Jepang terhenti pula kegiatan olah raga di Indonesia barulah setelah dua bulan Jepang membentuk sebuah badan yang mejalankan koordinasi dari semua kegiatan olah raga yaitu : TAI IKU KAI yang mengaktifkan kegiatan PSSI untuk mengadakan pertandingan &ndash; pertandingan bertepatan dengan hari-hari besar yang dirayakan Jepang. Pada tahun 1942 kegiatan olah raga mulai dijalankan secara serentak di Jakarta, Semarang, Surabaya, Bogor, Yogyakarta, Malang dan Blitar sementara Penjas disekolah-sekolah diajarkan TAISO ( Senam pagi ala Jepang ). <a name=\"_GoBack\"><\/a><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Pada zaman sesudah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, dibentuklah susunan kabinet pertama dimana kegiatan olahraga dan pendidikan jasmani berada dibawah menteri pengajaran. Pada waktu itu pendidikan jasmani dipergunakan dilingkungan sekolah, sedangkan olahraga digunakan untuk kegiatan olahraga di masyrakat yang berupa cabang-cabang olahraga. Dengan dibentuknya kementarian pengajaran, maka pemimpin-pemimpin bangsa pada waktu itu telah menunjukkan kepeduliannya akan masalah pendidikan, yang didalamnya tercakup pula pendidikan jasmani, namun karena baru dalam taraf penataan, maka kegiatan pendidikan jasmani yang diatur oleh kementarian pengajaran belum banyak begitu dirasakan. Istilah &ldquo;gerak badan&rdquo; masih banyak dipergunakan disekolah dasar maupun di sekolah menengah. Ada permulaan tahun 1946 para pemimpin olahraga yang sebagian besar terdiri dari pemimpin ex GELORA (Gerakan Latihan Olahraga Rakyat, yang didirikan pada zaman Jepang yang merupakan organisasi olahraga yang didalamnya terdapat cabang-cabang seperti sepak bola, bulu tangkis, tenis, dll), ex PUTERA dan juga ex pengurus ikatan sport Indonesia disingkat I.S.I (didirikan tahun 1938) megadakan pertemuan di Surakarta tepatnya di gedung Habipraya didpimpin oleh Dr. Abdurrachman Saleh yang mana pada pertemuan tersebut terdapat keputusan &ndash; keputusan penting sebagai berikut: <\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">1.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Pertemuan itu dinamakan Kongres Olahraga I (pertama) tahun 1946 <\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">2.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Nama Persatuan Olahraga Indonesia (PORI) untuk hubungan luar negeri dibentuklah Komite Olimpiade <span style=\"\"> <\/span>Republik Indonesia (KORI) kegiatan PORI lebih diarahkan untuk mengiatkan cabang &ndash; cabang olahraga yang <span style=\"\"> <\/span>telah menjadi anggotanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Seperti dijelaskan diatas peran olahraga semakin penting pada zaman pergerakan nasional pada 1908, yang mencapai puncaknya saat para pemuda Indonesia mendeklarasikan Sumpah Pemuda 1928. Mereka menjadikan olahraga sebagai tekad perjuangan bangsa untuk merdeka. Ini terlihat pada penggalan lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan pertama kali saat deklarasi itu: &ldquo;&#8230; bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya &#8230;&rdquo;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Setelah Indonesia merdeka, olahraga turut berperan mewujudkan cita-cita bangsa, seperti tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pada awalkemerdekaan,saat masa revolusi, bangsa Indonesia menggelar Pekan Olahraga Nasional untuk pertama kalinya di Surakarta, 9 September<\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\"> <\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">1948. Ini membuktikan kepada dunia luar bahwa Indonesia bisa mengadakan kegiatan seperti apa yang dilakukan olah negara-negara merdeka di dunia ini. <\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"text-decoration: underline;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"text-decoration: none;\">&nbsp;<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; line-height: 150%;\"><strong style=\"\"><span style=\"text-decoration: underline;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Berikut ini Penjelasan mengenai<span style=\"\">&nbsp; <\/span>Penyelenggaraan PON I<\/span><\/span><\/strong><strong style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\"> <\/span>Pengurus besar PORI mengusulkan kepada Pemerintah Pusat yang waktu itu berada di Yogyakarta bahwa PORI akan menyelenggarakan Pekan Olahraga di Surakarta yang selanjutnya PB. PORI memebentuk panitia PON,<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; line-height: 150%;\"><strong style=\"\"><span style=\"text-decoration: underline;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Informasi singkat tentang pelaksanaan PON I (Surakarta)<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Ketua Umum PON I GPH Soerjo Hamid Djojo<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">1.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Diadakan tanggal 9 &ndash; 12 September 1948 di Surakarta<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">2.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Acara pembukaan PON pertama di stadion Sriwedari.<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">3.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Peserta PON adalah kontingan presidenan yang terdiri dari 13 kontingen yaitu :<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">a.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Yogyakarta<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">b.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Solo<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">c.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Surabaya<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">d.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Malang<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">e.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Kediri<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">f.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Madiun <\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">g.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Semarang<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">h.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Pati<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">i.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Kedu<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">j.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Magelang<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">k.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Banyumas<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">l.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Bandung<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">m.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Jakarta <\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">4.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Cabang olahraga yang dipertandingan 9 cabang olahraga sbb:<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">a.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Atletik<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">b.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Bola keranjang (korfbal)<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">c.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Bulutangkis<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">d.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Tenis<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">e.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Renang<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">f.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;<span style=\"\"> <\/span> <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Panahan<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">g.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Sepak bola<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">h.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Bola basket<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 63.0pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">i.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Pencak<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">5.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Bendera PON berwarna putih dengan gambar lima lingkaran (ring) olimpiade dan obor ditengahnya diserahkan kepada regu pembewa obor di Yoyakarta oleh Presiden dan dibawa dengan berjalan kaki secara beranting dari Yogya ke Solo<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">6.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">PON akan dibuka tanggal 9 September 1948 oleh Presiden RI<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">7.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">PON diselenggrakan dengan tujuan untuk menggalang Persatuan dan Kesatuan para pemuda dan pemudi dalam wilayah Negara RI<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">8.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Penyelenggaraan PON juga dimaksudkan untuk melatih para atlet untuk tujuan yang lebih tinggi lagi yaitu untuk dapat mempersiapkan diri kepertandingan Internasional seperti Asian Games dan Olmpic Games<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><strong style=\"\"><span style=\"text-decoration: underline;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Keikutsertaan Indonesia di ajang Olahraga Internasional <\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-size: 16px; line-height: 24px; text-decoration: underline;\"><strong><br \/><\/strong><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Setelah berhasil menyelenggarakan PON I, PORI berubah menjadi<span style=\"\">&nbsp; <\/span>Persatuan Olahraga Indonesia yang singkatannya tetap PORI, sedangkan KORI menjadi KOI (Komite Olahraga Indonesia), bertepatan dengan penyelenggaraan PON II yang dilaksanakan di Jakarta. PORI dan KOI menyelenggarakan kongresnya di Jakarta. Kongres tersebut memutuskan untuk melebur KORI menjadi KOI atas usul PSSI dan PASI, dengan pertimbangan untuk efisiensi kerja. Setelah itu KOI merupakan satu-satunya organisasi yang membina keolahragaan nasional dan juga bertugas mengurusi hubungan dengan organisasi keolahragaan di luar negeri seperti Asian Games dan Olimpic Games. KOI bergabung dengan IOC pada tahun 1952 dengan Sri Sultan Hamengkubowono Ix<span style=\"\">&nbsp; <\/span>disahkan menjadi anggota IOC dari Indonesia, yang kemudian dilanjutkan dengan keikutsertaan Indonesia di Olimpiade yang diselenggarakan di Helsinki pada tahun 1952. Itu merupakan pertama kalinya Indonesia ikut serta diajang Olimpiade yang ternyata tidak saja &ldquo;mendemamkan&rdquo; olahraga khususnya olimpiade di tanah air, tetapi juga masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri. Betapa tidak karena nama Indonesia berada di antara 72 negara peserta Olimpiade dan tidak kurang 5200 olahragawan terpilih di seluruh dunia ikut berpartisipasi, meskipun Indonesia baru pertama kali mengikuti Olimpiade dan hanya mengirimkan 3 atlet saja namun pengalaman tersebut sangat berharga. Terutama bagi atlet dan merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><strong style=\"\"><span style=\"text-decoration: underline;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">GANEFO I Jakarta <\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Persiapan penyelenggaraan Ganefo I Jakarta 10 &ndash; 22 November 1963 menetapkan ada 5 usaha pokok yaitu :<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">1.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Memobilisasi Negara-negara peserta <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\"> <\/span>48 negara hadir dan diikuti oleh 3000 atlet<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">2.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;<span style=\"\"> <\/span> <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Pengerahan potensi nasional <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\"> <\/span>Pengerahan partai politik, pemuda, mahasiswa baik dipusat maupun didaerah untuk menyukseskan ganefo<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">3.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Pengoorganisasian perayaan Ganefo <\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">4.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Penyiapan tim nasional Indonesia<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><span style=\"\">5.<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style=\"\"> <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Persiapan pembiayaan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"text-decoration: underline;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Penyelenggaraan Ganefo<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Akhirnya Ganefo I berhasil diselenggrakan di Jakarta pada tanggal 10 &#8211; 22 November<span style=\"\">&nbsp; <\/span>1963 dengan mempertandingkan 20 cabang olahraga dan Indonesia berhasil menempati rangking III sesudah RRC I dan USSR ke II<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Setelah prestasi yang didapat di Ganefo presiden RI turun langsung memberikan perintah kepada aparaturnya yaitu menteri olahraga agar prestasi olahraga dapat mencapai taraf internasional.<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Rencana 10 tahun olahraga dan Departemen Olahraga meliputi 5 program dasar<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Program Dasar I<span style=\"\"> <\/span>: mempertinggi potensi fisik nasional (gerakan masal olahraga)<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Program Dasar II<span style=\"\"> <\/span>: memperluas dan mengintensifkan gerakan olahraga dilingkungan pemuda \/pelajar<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Program Dasar III<span style=\"\"> <\/span>: membina olahragawan yang potensial dan berbakat tinggi<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Program Dasar IV<span style=\"\"> <\/span>: menyediakan kelangkapan material dan spiritual untuk penyelenggaraan program-program olahraga<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Program Dasar V<span style=\"\"> <\/span>: konsultasi hasil Ganefo I dan pengeloraan Gerakan Ganefo<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><strong style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">&nbsp;<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Bagaimana hubungan olahraga dengan masyarakat? Sebenarnya perkembangan olahraga di pemerintahan telah mencakup tentang Olahraga masyarakat, pada masa presiden Bung Karno beliau mengeluarkan pernyataan &ldquo;nation and character building&rdquo;, yang kemudian menjadi awal terbentuknya pembinaan olahraga Indonesia setelah Asian Games 1962. Saat itu Presiden memerintahkan,&ldquo;Pak Siregar (Mangombar Ferdinand Siregar), untuk mencoba menyusun program kerja peningkatan olahraga selama 10 tahun. Kemudian &rdquo;Pak siregar menyusun program yang diinginkan Bung Karno. Dalam program itu, ada delapan cabang olahraga yang menjadi andalan, yaitu atletik, re- nang, bulu tangkis, tenis meja, sepak bola, bola voli, senam, dan bola basket. Saat itu, Bung Kar- no bilang, pembinaan harus dimulai dari sekolah usia dini (seperti yang dikutip dari Koran Tempo 5 september 2010).<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Program dasar yang yang dibuat yaitu membagi program itu menjadi program dasar satu sampai lima, disertai target yang akan dicapai hingga 1967. Program dasarnya antara lain olahraga dapat diikuti sejak usia 4 tahun, seperti senam dan gerak jalan, diusahakan adanya program yang mengikutsertakan masyarakat secara teratur, dan adanya ujian setahun sekali bagi tiap-tiap kelompok umur seperti 11-13 tahun, 13-15 tahun, 15-17 tahun, dan 17 tahun ke atas.Yang lulus diberi lencana. Sekolah dasar, terutama sekolah lanjutan, menjadi sumber yang memiliki potensi yang diperlukan untuk meningkatkan prestasi, sehingga perlu adanya Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Pada masa Orde Baru di bawah Pak Harto, menindaklanjuti program di zaman Bung Karno. Ada lima program yang dimasukkan ke program olahraga, yaitu pembinaan olahraga dimulai dari usia dini, sekolah, program intensif, gelanggang-gelanggang olahraga, dan di tingkat nasional ditandai dengan tim yang kuat. Pada jaman pemerintahan Pak Harto, <\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">Pada tahun 1982 Presiden Republik Indonesia telah mencanagkan Panji Olahraga yang lebih dikenal dengan &ldquo;Memasyarakatkan OLahraga dan Mengolahragakan Masyarakat&rdquo;. Memasyarakatkan olahraga diletakkan dalam permulaan kalimat, hal ini memberikan arti bahwa olahraga beserta nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya harus mendapat perhatian, di pahami dan di hayati terlebih dahulu oleh semua pembina olahraga sehingga dalam menyebar luaskan nilai-nilai olahraga melalui program kegiatan yang telah dirancang dengan baik dapat berpengaruh terhadap perilaku para peserta kegiatan, terutama pada anak-anak. Selain terkenal dengan dengan panji &ldquo;Memasyarakatkan OLahraga dan Mengolahragakan Masyarakat&rdquo;, Pak. Harto terkenal sebagi motivator ulung untuk selalu mengobarkan semangat para atlet-atlet Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">Melalui panji yang pertama &ldquo;Memasyarakatkan OLahraga&rdquo;, setelah para pembina olahraga memahami, menghayati dan siap mengabdi melakukan program kegiatan keolahragaan yang telah dirancang dengan baik, maka mulailah program &rdquo;Mengolahragakan Masyarakat&rdquo; di sebar luaskan, dilaksanakan, di monitor, di evaluasi, dipertahankan dan dikembangkan untuk selamanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">Program &rdquo;Mengolahragakan Masyarakat&rdquo; adalah suatu program olahraga yang diharapkan dapat dilakukan oleh sebanyak mungkin warga negara dalam usaha menyebar luaskan olahraga beserta nilai-nilai luhurnya, membuat orang menjadi sehat jasmani dan rokhani. Seperti sudah di jelaskan dibagian atas bahwa pernyataan tersebut sesuai dengan kalimat yang ada dalam Lagu Kebangsaan kita Indonesia Raya yaitu &rdquo;Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya&rdquo;. <\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">Pada masa Orde baru dengan dengan panji &ldquo;Memasyarakatkan OLahraga dan Mengolahragakan Masyarakat&rdquo; dapat berjalan dengan baik karena<span style=\"\">&nbsp; <\/span>presiden selalu mengintruksikan agar kementrian membantu kemajuan olahraga terbukti pada masa itu Indonesia paling sering menjadi juara umum pada<span style=\"\">&nbsp; <\/span>SEA-Games.<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">Sebenarnya bagaimana padamasa sekarang? SBY (Susilo Bambang Yudoyono) beberapa kali telah mengeluarkan pernyataan politik mengenai kebijakan olahraga, tapi tidak ditindaklanjuti oleh menteri-menterinya. Pak SBY pertama kali mengatakan,&ldquo;<em style=\"\">Sport community, sport center, sport fun<\/em>,&rdquo; selanjutnya ia mengeluarkan pernyataan &ldquo;dunia olahraga sangat penting bagi seluruh bangsa Indonesia, &rdquo;kemudian disusul pernyataan bahwa panji olahraga &ldquo;memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat&rdquo; masih relevan. SBY juga pernah mengatakan, untuk peningkatan dan pengembangan olahraga di Tanah Air, semua pihak harus berusaha dan mau bekerja keras bersama, bertanggung jawab untuk olahraga kita. Terakhir, pernyataan beliau adalah olahraga dan seni itu sangat penting. Tapi, para menterinya tidak mengikuti pernyataan Presiden itu? Jadi sekedar omongan. Untuk itu, perlu ada gebrakan yang nyata. <\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 16px; line-height: 24px;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: center; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><strong style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">Analisis Pembahasan<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">Program panji &ldquo;Memasyarakatkan OLahraga dan Mengolahragakan Masyarakat&rdquo;, memang masih relevan untuk memajukan olahraga di Indonesia. Bagaimana kita melakukan gebrakan seperti dijelaskan pada pembahasan diatas supaya olahraga Indonesia bisa berjaya lagi.<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">Pemikiran dan rencana yang ada<span style=\"\"> <\/span>sudah<span style=\"\"> <\/span>bagus. Tinggal ada<span style=\"\"> <\/span>atau tidaknya SDM yang ada mau mengutamakan perkembangan olahraga dari kepentingan diri sendiri. Ini yang saya risaukan karena terintervensi virus di lingkungan, sehingga olahraga harus menggebraknya. Makanya perlu ada dewan olahraga nasional seperti di Australia atau Negara maju lainya, yang terdiri atas beberapa kementerian yang dipimpin langsung presiden. Untuk itu, perlu duduk bersama untuk menyusun sistem terbaru guna mengoptimalkan peranan olahraga dalam pembinaan bangsa. Selama ini dukungan pemerintah pada pembinaan tidak terlihat jelas karena tidak ada sistemnya. Apalagi olahraga selama ini tidak dipegang oleh orang-orang yang bukan professional dalam bidang olahraga.<span style=\"\">&nbsp; <\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">KONI\/KOI dan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga sekarang kerja samanya sudah bagus, terutama pada pelaksanaan Program Indonesia Emas. Permasalahannya, bibit atlet itu lahannya dari sekolah dan KONI tidak bisa berbuat apa-apa karena ranah sekolah itu urusan Mendiknas. Untuk itu, perlu ada kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional. <\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">Data terakhir hasil penelitian UNICEF British Council and UK Sports yang mengumpulkan data semua keterampilan seluruh kekuatan dan kualitas pada bidang pendidikan jasmani (Physical Education), Olahraga (Sports), and permainan (Play)<span style=\"\">&nbsp; <\/span>berdasarkan keadaan yang dihadapi oleh anak-anak di Indonesia yang berhubungan dengan kebugaran fisik, kesehatan dan kualitas pendidikan jasmani yang di kutip dari <\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">(<\/span><span><a href=\"http:\/\/www.reliefweb.int\/rw\/res.nsf\/db900sid\/OCHA-8AE9SJ?OpenDocument&amp;rc=3&amp;cc=idn\"><strong><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">http:\/\/www.reliefweb.int\/rw\/res.nsf\/db900sid\/OCHA-8AE9SJ?OpenDocument&amp;rc=3&amp;cc=idn<\/span><\/strong><\/a><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">) <\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">yang menyatakan: <\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: #0e0e0e;\"><span style=\"\">&middot;<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">47% of students in Indonesia have a very low quality of physical fitness, and only 17% of them have good physical fitness. The biggest challenge lies between 7-14 years old (Pusjas, MoNE, 2004)<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: #0e0e0e;\"><span style=\"\">&middot;<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">9.5% of boy and 6.4% of girls age 7 to 14 are overweight (Riskesdas, 2007).<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: #0e0e0e;\"><span style=\"\">&middot;<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">Children watch television 3-5 hours per day during school days, and 4-6 hours during the weekends (UNDIP, 2008)<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: #0e0e0e;\"><span style=\"\">&middot;<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">88,442 primary schools in Indonesia do not have PE teachers, and the classroom teachers do not have appropriate foundation to teach quality PE to the children (MoNE, 2007);<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: #0e0e0e;\"><span style=\"\">&middot;<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">Physical education is still associated with sports for competition.<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Symbol; color: #0e0e0e;\"><span style=\"\">&middot;<span style=\"font: 7.0pt Times New Roman;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">Facilities and equipments for sports are still limited.<\/span><\/p>\n<p style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: #0e0e0e;\">Berdasarkan data diatas kita harus betu-betul kerja keras bersama dan bagaimana kita melakukan gebrakan, menurut kami <\/span><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">seperti halnya di negara-negara maju mengutamakan jalur sekolah itu menurut kami lebih baik. Sebab, pendidikan jasmani selama ini belum diurus dengan baik, padahal sekolah itu sumber pertama yang menjadi modalnya. Dengan pembinaan<span style=\"\">&nbsp; <\/span>dimulai sejak usia dini, kemudian melalui sekolah tersebut, dilanjutkan ke klub. Sebagai negara yang berpenduduk besar, sekitar 247 juta jiwa, paling sedikit ada 40 juta anak sekolah. Seperti yang kita ketahui dari data di<span style=\"\">&nbsp; <\/span>atas mengenai guru olahraga bukan dari pendidikan olahraga. Sebagai catatan karena pendidikan usia dini memalui sekolah sebagai modal utama, maka kita harus menyiapkan sumberdaya guru penjas dan pelatih yang profesional yang siap mengajar bukan siap magang. Olehkarena itu, perguruan tinggi yang ada di seluruh wilayah Indonesia khususnya yang terdapat fakultas keolahragaan juga harus siap bekerja sama. Akan tetapi seperti yang kita ketahui, kurikulum pendidikan<span style=\"\">&nbsp; <\/span>diperguruan tinggi olahraga juga harus jelas antara penjas, kepelatihan dan ilmu keolahragaan. Seperti yang kita ketahui tidak ada kejelasan arah untuk pendidikan kepelatihan olahraga dan ilmu keolahragaan. Pendidikan kepelatihan seperti yang kita ketahui setelah lulus belum memegang sertifikat kepelatihan tingkat nasional yang malah harus mengambil penataran tingkat nasional kembali untuk bisa exist di dunia kepelatihan. Hal ini sangat memprihatinkan, pendidikan yang empat tahun kalah dengan orang-orang yang hanya penataran satu minggu. <span style=\"\">&nbsp;<\/span><span style=\"\">&nbsp;<\/span>Sedangkan pendidikan kepelatihan yang seharusnya terjun di dunia kepelatihan juga malah terjun didunia pendidikan karena mempunyai akta mengajar, sehingga seperti yang saya ketahui dilapangan berseteru karena merasa lahanya diambil. Sedang untuk ilmu keolahragaan setelah lulus mereka mengalami kebingungan arah kemana harus bekerja. Selain itu pendikan guru olahraga yang kurang jelas harus dibenahi yang dilaksanakan di ruko-ruko yang kuliah hanya dua kali dalam seminggu dan notabenya hanya mengejar gelar. Memang kita tidak hanya bisa diam dan mengkritik, bagaimanapun kita harus bersama-sama memperbaiki hal tersebut bersama. Kementerian itu harus lebur seperti zaman Bung Karno dan Pak. Harto. Jangan seperti sekarang, mau begini atau begitu tidak pas dengan sistem dan proses olahraga. Pengurus olahraga tidak boleh hanya mengutamakan diri sendiri karena akan mempengaruhi keteladanan murid dan para atlet kita. <\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial; color: black;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: center; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><strong style=\"\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">DAFTAR PUSTAKA<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">Koran Tempo 5 september 2010<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; line-height: 150%;\"><span><a href=\"http:\/\/www.reliefweb.int\/rw\/res.nsf\/db900sid\/OCHA-8AE9SJ?OpenDocument&amp;rc=3&amp;cc=idn\"><strong><span style=\"line-height: 150%; font-family: Arial;\">http:\/\/www.reliefweb.int\/rw\/res.nsf\/db900sid\/OCHA-8AE9SJ?OpenDocument&amp;rc=3&amp;cc=idn<\/span><\/strong><\/a><\/span><span style=\"font-family: Arial;\"><\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: .25in; text-align: justify; text-indent: .25in; line-height: 150%;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%; font-family: Arial;\"><br \/><\/span><\/p>\n<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>OLAHRAGA DI MASYARAKAT &nbsp;Sejarah Perkembangan Olahraga di Masyarakat Sebelum membicarakan olahraga di Indonesia maka terlebih dahulu dibicarakan apa arti olah raga itu ? Olah raga, menilik asal katanya dari olah dan rogo berasal darikata bahasa jawa olah yang berarti berlatih, melakukan kegiatan dengan tekun dan rogo yang berarti badan atau jasmani sehingga olah raga waktu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-682","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorised"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/682","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=682"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/682\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":735,"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/682\/revisions\/735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pendidikanjasmani.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}